Indonesia terdiri dari 17.508
pulau besar dan kecil yang memiliki panjang garis pantai 43.624 mil laut
dengan panjang alur pelayaran 2.634 mil laut serta luas seluruh perairan
Indoneisa 207.087 Km2. Kondisi geografis Indonesia yang berada pada posisi
silang dunia memerlukan perhatian khusus untuk menunjang kegiatan pelayaran
Internasional dan Nasional.
Untuk keamanan dan kelancaran alur pelayaran diperlukan sarana kenavigasian
yang handal dan juga sesuai Undang Undang No.17 tahun 1985 tentang Ratifikasi
Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 kewajiban bagi pemerintah Indonesia
untuk, antara lain :
1. Membangun fasilitas kenavigasian.
2. Memelihara fasilitas kenavigasian
3. Menyebarkan informasi kenavigasian
Dengan perkembangan era globalisasi semakin menuntut kewajiban untuk melaksanakan
ketiga kegiatan dimaksud secara optimal sesuai KM.No.41 tahun 1997 tentang
Oraganisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Direktorat
Kenavigasian melaksanakan sebagian Tugas Pokok Direktur Jenderal Perhubungan
Laut dibidang Kenavigasian yang berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan
oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, mempunyai fungsi sebagai berikut
:
| a. |
Penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis dibidang
Perambuan, Telekomunikasi Pelayaran, Pengamatan Laut, Kapal Negara
dan Pangkalan Kenavigasian. |
| b. |
Pembinaan dibidang Perambuan, Telekomunikasi Pelayaran, Kapal
Negara dan Pangkalan Kenavigasian. |
| c. |
Koordinasi dan pembinaan sarana dan prasarana dibidang Kenavigasian. |
| d. |
Pemberian pelayanan dan informasi dibidang Perambuan dan Telekomunikasi
pelayaran. |
| e. |
Pelaksanaan urusan tata usaha, kepegawaian dan rumah tangga Direktorat. |
Untuk menyelenggarakan kegiatan Kenavigasian dengan KM. No.80 tahun 1993
Jo. KM. No.96 tahun 1997 telah ditetapkan Organisasi dan Tata Kerja Distrik
Navigasi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas Sarana Bantu Navigasi
Pelayaran, Telekomunikasi Pelayaran, Kapal Negara dan Pengamatan Laut
untuk :
| • |
Melaksanakan sebagian wewenang dan tanggung jawab
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dibidang Keselamatan Pelayaran
khususnya dibidang Kenavigasian. |
| • |
Melaksanakan jaringan kerja sama Unit Pelaksana Teknis dengan
beberapa negara karena adanya kesepakatan Internasional (Bilateral/Multilateral). |
| • |
Melaksanakan ketentuan Internasional yang bersifat mandatory (Ship
reporting system) serta pemberlakuan aturan-aturan keselamatan pelayaran
dibidang Kenavigasian diperairan Indonesia. |
Sesuai dengan luas wilayah operasional serta sarana dan prasarana yang
dimiliki, Distrik Navigasi terdiri dari :
| a. |
Distrik Navigasi Klas I. |
| |
| 1. |
Distrik Navigasi Dumai |
| 2. |
Distrik Navigasi Tanjung Pinang |
| 3. |
Distrik Navigasi Tanjung Priok |
| 4. |
Distrik Navigasi Surabaya |
| 5. |
Distrik Navigasi Samarinda |
| 6. |
Distrik Navigasi Manado / Bitung |
| 7. |
Distrik Navigasi Makassar |
| 8. |
Distrik Navigasi Ambon |
| 9. |
Distrik Navigasi Sorong |
|
| b. |
Distrik Navigasi Klas II. |
| |
| 1. |
Distrik Navigasi Belawan |
| 2. |
Distrik Navigasi Teluk Bayur |
| 3. |
Distrik Navigasi Palembang |
| 4. |
Distrik Navigasi Semarang |
| 5. |
Distrik Navigasi Benoa |
| 6. |
Distrik Navigasi Banjarmasin |
| 7. |
Distrik Navigasi Tarakan |
| 8. |
Distrik Navigasi Kupang |
| 9. |
Distrik Navigasi Jayapura |
|
| c. |
Sub Distrik Navigasi. |
| |
| 1. |
Sub Distrik Navigasi Sabang |
| 2. |
Sub Distrik Navigasi Sibolga |
| 3. |
Sub Distrik Navigasi Cilacap |
| 4. |
Sub Distrik Navigasi Pontianak |
| 5. |
Sub Distrik Navigasi Kendari |
| 6. |
Sub Distrik Navigasi Merauke |
|
Sesuai KM.46/OT/PHB-1978 tanggal 8 Maret 1978 tentang Organisasi Balai
Teknologi Keselamatana Pelayaran mempunyai tugas menyelenggarakan Pengadaan
Pengaturan dan Pengujian Alat-alat Sarana Bantu Navigasi Pelayaran,
Alat-alat Elektronika dan Telekomunikasi Pelayaran, Alat-alat Nautis
Teknis Peralatan Kapal Negara dan melaksanakan pemberitaan.